Rabu, 10 Juli 2013

Riak Pelangi



            Terbentanglah alam dengan cahayanya memancarkan kilauan disekelilingnya. Wilayah yang berdiri diantara bulatnya bumi, kami telah ada disana sejak dilahirkan. Mendapatkan pelajaran hidup berawal dari sini. Rumah masih jarang karena terletak dipinggiran kota. Kota ini belum megah, bagunannya masih mengambarkan bentuk di masa lampau, masa nenek moyang kita masih terjajah. Aku harus meneruskan ini. Kondisi tempatku belajar memacu diri untuk menjadi lebih baik dari keadaan yang ada. Di dunia ini banyak hal yang membuat orang merasakan ketidakadilan. Namun hal itu hanya dirasakan oleh orang yang tidak tahu mengapa mereka ada.
              Dalam tubuh terdapat zona vital insan yang seyogianya dapat memuliakan diri. Ketidakadilan timbul karena sebagian dari kita tidak menyadari zona itu ada untuk membuat semuanya tidak perlu merasakan hal tersebut. Lihatlah gradien warna pelangi begitu banyak warna dan setiap warna memiliki keindahannya sendiri. Seperti halnya insan, kita dapat berbeda tapi setiap kita telah diberikan kelebihan masing-masing.
           Aku hanya anak dari seorang yang biasa dan setiap langkah kaki penuh dengan kesederhanaan. Bangku ini yang menemaniku memahami hidup dan bangku ini akan berubah setelah aku melewati ujiannya. Suasana sekolah dasar selalu bersemangat, kawan sejati, kawan biasa bercampur baur. Ya… sekolah sejatinya tempat kita menimba ilmu tapi wadah ini dapat juga menjadi tempat menemukan kawan sejati. Tidak banyak dari teman seperjuangan menjadi terpisah karena tingkat ekonominya yang tidak sama dengan yang lainnya.
          Daerah ini belum maju. Anak sekecil ini harus bisa menopang hidup diantara orang yang  kehidupannya telah terjamin oleh kekayaan orang tua mereka. Membantu orang tua dengan tubuh yang masih kecil sungguh jalan ini sangat memberi berkah nantinya. Hari di bangku sekolah adalah menyenangkan karena menempuh dunia pendidikan sangatlah berharga bagi aku yang ingin mengubah apa yang ada.
                 Kawanku yang periang aku bangga berada disamping kalian. Bangku ini telah mengajarkan aku menghargai setiap apa yang diberikan. Ibu… Aku tahu mengapa kau selalu membangunkanku di saat subuh. Kau tidak ingin anakmu telambat dan salah menentukan sikap disaat matahari menyinari sampai tinggi. Aku sungguh beruntung. Kawanku belajar selalu ceria tak satu yang kurang darinya dan mampu berbelanja apa yang diinginkannya tapi ia tidak pernah dibangunkan oleh ibunya disaat subuh. Oh… sungguh kita dilahirkan dengan kelebihan masing-masing.
                  Keluarga ini lahir dari dara pedagang. Dibesarkan karena hasil jerih payah yang teramat panjang. Kakak yang sabar selalu menenangkan dan mengarahkan. Kita semua sama bangun subuh sesubuh mungkin, kata kakak. Orang yang telah melahirkanku ke dunia adalah insan dengan pendirian teguh dan pekerja keras. Ya… karena mereka pernah merasakan hidup dalam udara penjajahan jadi mentalnya pun mental pejuang. Mereka adalah pejuang rezki halal untuk hidup anak yang dikasihinya.
                Gedung yang tertata  rapi diantara rerumputan hijau melewati rumah dengan selingan tanah kosong bagai lorong tak berujung. Memang rumah disini masih jarang. Pembangunan baru akan dimulai.  Perumahan masyarakat yang baru dibangun cukup memberikan riak mata setelah melihatnya. Aku selalu melewati sela diantara rumah itu. Begitu pula kakakku. Melewatinya dengan hati penuh pengharapan. Jalan ini tempatku menjajakan dagangan. Banyak orang mengenalku karena sebagian dari mereka adalah teman sekolah. Pembangunan telah membuka jalan keluargaku untuk membangun hidup.
               Hari menginjakkan kaki dibumi yang indah dengan berbagai kesibukan dan orientasi kedepan tidak pernah meninggalkan kisah yang buruk. Setiap hari dijalani dengan baik, siang sampai malam. Saat terang aku menggunakan kaki melangkah untuk kebaikan semua dan gelap aku menggunakan mata, telinga untuk kebaikan masa depanku. Sebagai pelajar tugasku  belajar. Belajar tidak pernah berakhir sulit karena belajar adalah solusi untuk mengalahkan kesulitan. Belajar paling bagus kalau di malam hari sampai subuh. Aku dan kakak selalu melakukan itu.
              Keluarga ini sangat memperhatikan kemampuan ilmu yang dimiliki. Orangtua selalu mengingatkan tentang itu. Ibu tidak jarang menceritakan betapa sulit ia mendapatkan ilmu dimasa mereka, hingga ia harus meronta-ronta kepada orangtuanya untuk melanjutkan pendidikan. Kemelut pola pikir orangtua terdahulu selalu mengutamakan pria mengenyam pendidikan sedang wanita harus mengurus pekerjaan rumah. Hal itu tidak ingin terjadi pada anaknya.
           Sekarang rumah tampak ramai, kakak sulungku baru saja tiba dari perantauan. Kakak Sumi namanya. Ia tampak bahagia. ia terpaksa harus jauh dari keluarga, karena kekecewaannya pula. Teman seangkatanya tahu kalau kakakku yang satu ini tergolong orang cerdas dibangku sekolah. ia ingin sekali melajutkan kuliah ke perguruan tinggi. Namun keadaan ekonomi yang buruk membuatnya harus mengubur keinginan itu. Aku tahu kakak masih ingin melanjutkan belajarnya kan..? Kataku pada kakak. Ya dek, Jawab kakakku. Ia hanya bisa berharap walau harapan itu sudah hampir pupus.
              Sebagai anak pertama kakak terkadang merasa kurang beruntung. Keadaan pulalah yang membuat dia tidak beruntung. Kali ini orangtuaku merasa terpukul karena terpaksa tidak dapat mewujudkan impian anaknya dan persis seperti yang ibu rasakan terdahulu. hidup tidak akan berubah jika kita tidak merubahnya. Orangtuaku merasa belum berhasil merubah hidup. Tapi kita bagai satu warna pelangi dan yakinlah yang Maha Kuasa telah menitipkan keindahan disana.
         Aku tahu semua orangtua ingin anaknya sukses dan kesuksesan diperoleh dengan kerja keras diawalnya. Kita masih ada waktu untuk merubah ini. Hidup layaknya terjun di medan peperangan siapa yang kuat maka ia akan bertahan hidup dalam waktu yang lama. Menghargai udara yang dihirup sebagai rahmat dariNYA dengan melakukan apa yang diperintahkan dan menjauhi laranganNYA sungguh menjadi kekuatan terbesar disaat jiwa terhimpit peperangan yang sengit



“masih ada waktu merubah yang ada”
                                   
  Selamat menunaikan Ibadah puasa 1434 H.   Semoga amal ibadah kita diterima disisi Allah SWT amin…, tiada kata seindah  doa pengharapan kita…, semoga bermanfaat buat kawanku pembaca. Wa’alaikumusalam Wr. Wb. (melly)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar